Wednesday, 9 March 2011 By: Linea Alfa Arina

Sebuah Lilin, Sebuah Titik Terang

Lilin...
Terlalu banyak yang ambigu tentangnya
Terlalu banyak pengertiannya
Hingga puncak itu datang, semuanya seketika berubah

Lilin...
Sudah kubilang, cahayanya meneduhkan
Sudah kubilang, sinarnya menenangkan
Padahal ku tahu pasti, itu hanya sebuah goresan animasi

Lilin...
Redup ya sekarang? atau mati?
Dalam terang aku akan bersyukur
Dalam redup pun demikian
Lilin menyala, redup, dan mati pun akan berusaha ku syukuri keadaannya

Kini memang terang, tapi bukan karena benda kecil itu
Kini memang bercahaya, tapi bukan karena cahaya kecil itu

Tapi yang kecil, tetap memiliki makna, tetap punya artinya.

Teringat sebuah pesan...
"Yang kita anggap baik belum tentu baik di mata Allah, dan yang kita anggap buruk belum tentu buruk di mata Allah."

Apapun arti dari benda kecil itu,
ku harap, ada arti lain dari sekedar gambar itu,
ku harap, ada titik terang lain yang nanti akan menggantikan,

Maaf untuk angin dan air mata yang mematikannya,
aku ingat salah satu cerita jemari kecil : http://belongstoarin.blogspot.com/2010/09/gelap-tak-berarti.html

ternyata, jauh sebelum 4 Maret 2011 itu datang, aku sebenarnya sempat paham akan baiknya "gelap" ....

4 sahabatku bicara:

Regia Purnama Shofriyah said...

masih ada matahari kok teh hehe :D #gaknyambung
saatnya banting stir! yiiiha n_n

Uci said...

wah... bagus loh puisinya (puisi kah?)
habis gelap terbit terang :D

Regin Iqbal M. said...
This comment has been removed by the author.
Hidrogens said...

visit balik!

Post a Comment

ayo comment ayo comment ayo comment .___.