Saturday, 12 June 2010 By: Linea Alfa Arina

CERPEN 1 : Sederhana tetapi Berarti

Sudah lima tahun saya bekerja di sini. Selama lima tahun itu pula, di keluarga inilah sumber penghasilanku untuk keluarga di kampung. Sama seperti pembatu rumah tangga yang lain, sehari-hari sangat rutin yang saya kerjakan. Menyapu, mengepel, mencuci, menjemur, menyetrika, menyiapkan makanan, dan saat banyak yang bertanya apakah saya merasa bosan? Dengan penuh arti saya hanya menjawabnya dengan senyuman.

Sore itu, semua pekerjaan sudah selesai dan untuk melepas lelah, saya bermain bersama teman-teman saya di depan rumah. Dan tiba-tiba, Minah, yang bekerja di sebelah rumah berkata, "Mbok, kemarin saya ditanya sama Ibu, katanya ada temen Ibu butuh yang kerja untuk di rumahnya, pas saya tanya berapa gajinya, kalau saya bandingin sama yang majikan si Mbok kasih, gedenya 3x lipat loh Mbok, mau ga Mbok? Kan lumayan, tabungan buat di kampung jadi lebih besar."

Bagi sebagian yang pikirannya sempit, mungkin tawaran itu langsung diterima, ya zaman seperti ini uang memang jadi kebutuhan kan? Tapi bagi saya, berpikir panjang itu perlu untuk memutuskan.

"Yaudah, Mbok, kalau Mbok mau, besok kasih keputusan ya ke saya, lumayan Mbok, saya baru nawarin ke si Mbok lho." dia menambahkan.

***

"Mbok, tolong bikinin nasi goreng pake telor dadar ya Mbok?" kata Mbak Dina. "Siap, mbak!" jawabku singkat. "Ini Mbak, nasi gorengnya." "Wah makasih ya Mbok, pasti enak.." "Iya Mbak sama-sama, ayo dimakan, yang kenyang ya, kalau kurang, minta tambah aja, nanti Mbok bikinin lagi."


"Mbok, lihat sepatu saya yang putih ga Mbok?" panggil Ibu. "Sebentar ya, Bu, saya ambilkan dulu. Kemarin saya taro di rak belakang." "Iya, Mbok, makasih ya Mbok."


"Mbok, maaf ngerepotin, tolong ke warung dong Mbok beliin rokok." "Baik, Pak." "Ini uangnya, kembaliannya buat jajan Mbok aja, makasih ya Mbok."

***

"Gimana Mbok, sudah bisa memutuskan? Menerima tawaran saya kemarin ga Mbok?"
"Minah, saya ga mau pindah ah, saya mau tetap di sini saja. Biar untuk yang belum dapet kerjaan saja yang di sana." jawab saya yakin.
"Yah, kenapa mbok? Padahal kan gaji saja 3x lipat, Mbok. Lumayan kan Mbok." bujuk si Minah.
"Saya punya beberapa alasan, Min. Kamu tau kenapa saya tahan sekali di rumah ini selama 5 tahun lebih? Bukan uang banyak yang saya cari Min, bukan ingin menjadi kaya gara-gara jadi pekerja rumah tangga di tempat orang beruang. Di rumah ini, gaji memang tidak lebih besar dari tawaranmu, tapi di sini, setiap saya kerja, mereka selalu ucapkan kata 'terima kasih' atas pekerjaan yang sudah saya kerjakan, bukan senang dipuji, tapi itu mungkin tidak bisa saya dapatkan di tempat lain. Saya sangat bersyukur bisa bekerja di sini, mereka menghargai saya bukan dengan uang...."

"Wah Mbok, saya jadi terharu dengernya. Baiklah kalau seperti itu alasannya, saya juga tidak bisa memaksa."

Saya membalas kalimat terakhirnya dalam diam. Benar juga perkataan saya tadi? Ya selama ini tanpa saya sadari, saya semangat bekerja salah satunya ya karena itu. Lelah pun jarang dirasa karena setiap bekerja, hati saya selalu bahagia, pamrih pun tak ada. Dan karena itu pula saya tidak pernah bosan dengan rutinitas. Saya bersyukur untuk sekali lagi ditempatkan di keluarga ini.

Kalian tahu? Suatu sederhana seperti kata terima kasih terkadang kita sepelekan. Padahal kata itu bisa saja menjadi sangat berarti....

4 sahabatku bicara:

Wawawiwi said...

yey pertamax

Linea Alfa Arina said...

ah komen lu bagusan dikit napa, bosen pertamax trs -___- haha

Restya said...

bagus banget rin :')

Linea Alfa Arina said...

@rere : makasih re ^^

Post a Comment

ayo comment ayo comment ayo comment .___.